Indonesia English

Berita

20 November 2020

Prodi Ilmu Komputer Binus Siap Mengajukan Kerja Sama


Perpusnas, Jakarta – Program Studi Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara berencana mengajukan kerja sama pengembangan Perpustakaan Digital dan E-Braille kepada Perpusnas. Rencana ini terinisiasi setelah Daniel dan Rico Wijaya dari Fakultas Teknik Program Studi Ilmu Komputer Universitas Bina Nusantara melakukan pemaparan tentang Perpustakaan Digital dan E-Braille di ruang rapat kepala Pusat Jasa Informas dan Pengelolaan Naskah Nusantara Lantai 5 Perpusnas, Jalan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta pada hari Jum’at (20/11/2020).

Daniel menawarkan perpustakaan digital berbasis Raspberry Pi. Tujuannya adalah menghadirkan Perpustakaan Digital yang mampu bekerja di daerah pedalaman atau pedesaan yang kapasitas listriknya terbatas, tegangan listriknya terkadang tidak stabil, dan terlebih lagi tidak memiliki akses internet. “Menghadirkan Perpustakaan Digital yang mampu bekerja di daerah pedalaman atau pedesaan yang kapasitas listriknya terbatas, tegangan listriknya terkadang tidak stabil, dan terlebih lagi tidak memiliki akses internet” tutur Daniel.

Kerja sama yang diajukan Daniel adalah pengadaan dan Implementasi Perpusatakaan Digital di daerah – daerah terpencil di Indonesia dan pengayaan Konten Perpustakaan Digital. Selain itu, perpustakaan digital yang di kembangkan Daniel sudah pernah diimplementasikan di beberapa tempat seperti di  Pusat Informasi Sahabat Anak (PISA) Takome, Ternate (Oktober 2020)  melalui kerjasama dengan WVI , Honai Baca Wamena Papua (Agustus 2019), Nabire Papua (Agustus 2019) dan lainnya.

Sementara itu, Rico Wijaya menawarkan produk My Learning Module for The Blind. Rico Wijaya menghadirkan perangkat elektronik yang dapat menampilkan bacaan dalam bentuk braille menggunakan SD-card sebagai media penyimpanan buku bacaan atau bisa disebut E-Braille. Produk ini didasarkan pada permasalahan Tingginya minat baca para tuna netra, buku dalam format braille membutuhkan perawatan khusus agar awet, dan kesulitan dalam pendistribusian buku fisik untuk tuna netra.

“Sekitar tahun 2019, pencetakan koleksi untuk tunatetra itu adanya di lebak bulus dan di Bandung, sehingga dirasa akan kesulitan dalam pendistribusian buku fisik untuk tuna netra. Buku dalam format braille membutuhkan perawatan khusus agar awet.” Jelas Rico Wijaya. Kerja Sama yang diajukan Rico Wijaya adalah pengadaan dan implementasi My Learning Module for the blind v.1 dan pengembangan dan pengadaan My Learning Module for the blind v.2.

Kegitan ini juga dihadiri oleh perwakilan dari Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara, Pusat Data dan Informasi dan Biro Hukum, Organisasi, Kerja Sama, dan Hubungan Masyarakat Perpustakaan Nasional.

Dari hasil pemaparan, secara keseluruhan produk yang ditampilkan sangat menarik dengan beberapa catatan untuk dikembangkan. “Untuk perpustakaan digital kita sudah punya, namun untuk E-braile ini saya rasa ini menarik karena kita belum punya. Namun terkait perpustakaan digital ini bisa diajukan nanti pimpinan yang menilai , kami hanya memberi masukan.” Tutur Dhian Prasetya (Pusdatin). “Adanya Mou Kerja  sama akan menjadi dasar bagi kami untuk membantu pengembanagan dan penggunaan produk”, tambahnya.

Herwin Saswita (Biro HOKH)  juga menjelaskan untuk Kerjasama pengembangan (research) bisa mengajukan ke bagian kerjasama nanti akan kami bahas ke pimpinan. Pengajuan dapat melalui web Kerjasama.perpusnas.go.id dengan melampirkan proposal.



Oleh: Dede Gumilar



Diunggah oleh Dede Gumilar (11 December 2020)